Hipotermia di gunung

Mendaki gunung menawarkan keindahan alam yang tak tertandingi, namun juga membawa risiko yang tidak boleh diabaikan, salah satunya adalah Hipotermia di gunung. Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh inti turun drastis di bawah 35*C. Meskipun sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem, Hipotermia di gunung dapat menyerang siapa saja, bahkan pada suhu yang tidak terlalu dingin, terutama jika pendaki kelelahan, basah, atau kurang persiapan. Ini adalah bahaya serius yang dapat berujung fatal jika penanganan terlambat.

Oleh karena itu, bagi setiap pendaki, dari pemula hingga berpengalaman, memahami mekanisme dan cara pencegahan Hipotermia di gunung adalah keterampilan keselamatan hidup yang wajib dikuasai. Pengetahuan yang tepat dapat membedakan antara perjalanan yang sukses dan situasi darurat. Artikel ini akan membedah tiga tahapan Hipotermia di gunung yang harus dikenali, menguraikan strategi pencegahan krusial dalam persiapan mendaki, serta memberikan panduan langkah demi langkah tentang cara menangani korban secara efektif di tengah pendakian.

Memahami Musuh yang Tak Terlihat: Apa Itu Hipotermia?

Intinya, hipotermia di gunung adalah kondisi darurat medis saat suhu inti tubuh turun di bawah 35°C. Di lingkungan pegunungan, faktor angin kencang (wind chill), kelembapan tinggi (dari hujan atau keringat), serta kelelahan fisik menjadi pemicu utamanya. Prosesnya sering kali licin dan tidak disadari korban. Tubuh akan secara bertahap mengorbankan bagian ekstrem (seperti tangan dan kaki) untuk menjaga suhu organ vital di dada dan kepala. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini bisa berakibat fatal. Pemahaman mendalam tentang tahapannya adalah langkah pertama untuk keselamatan.

Tahap 1: Hipotermia Ringan (Suhu tubuh 32-35°C)
Ini fase kritis untuk dikenali. Gejalanya meliputi menggigil kuat, tangan terasa kaku, ucapan mulai pelo (seperti orang grogi), dan denyut nadi meningkat. Korban masih sadar, tetapi koordinasi tubuh mulai menurun. Banyak pendaki mengabaikan gejala ini karena mengira hanya capek biasa. Padahal, inilah momen emas untuk bertindak.

Tahap 2: Hipotermia Sedang (Suhu tubuh 28-32°C)
Menggigil justru berhenti—ini tanda bahaya besar. Tubuh sudah menyerah. Gejalanya: kebingungan parah (seperti mabuk), bicara melantur, langkah sempoyongan, dan mengantuk ekstrem. Kulit terasa dingin dan membiru.

Tahap 3: Hipotermia Berat (Suhu tubuh di bawah 28°C)
Korban dapat kehilangan kesadaran, denyut nadi melemah drastis, dan pernapasan sangat pelan. Pada tahap ini, risiko henti jantung sangat nyata.

Langkah-Langkah Penting untuk Mencegah Bahaya

Kabar baiknya, ancaman hipotermia di gunung sangat bisa dicegah dengan persiapan matang dan kesadaran tinggi. Prinsipnya sederhana: tetap kering dan terlindungi.

1. Pakai Pakaian Berlapis (Layering System)
Ini adalah hukum wajib. Gunakan tiga lapis: base layer (bahan cepat kering seperti polyester atau wool, bukan katun), insulating layer (fleece atau jakat bulu), dan outer layer (jaket anti-angin & anti-air). Sistem ini memungkinkan Anda menyesuaikan pakaian dengan aktivitas dan cuaca, sehingga terhindar dari keringat berlebih yang membasahi pakaian.

2. Kelola Keringat, Bukan Suhu Udara
Musuh utama sebenarnya adalah basah dari dalam. Saat mendaki tanjakan, jangan tunggu sampai baju basah kuyup. Segera buka jaket atau lepas lapisan agar tubuh tidak kepanasan dan berkeringat. Begitu Anda berhenti beraktivitas, segera kenakan kembali lapisan isolasi.

3. Jaga Asupan Energi dan Cairan
Tubuh membutuhkan bahan bakar untuk menghasilkan panas. Makan camilan tinggi kalori (coklat, kacang, energy bar) secara berkala, bahkan jika belum lapar. Minum air hangat sedikit-sedikit juga sangat membantu menjaga suhu tubuh dari dalam. Hindari alkohol, karena justru melebarkan pembuluh darah dan mempercepat hilangnya panas.

4. Waspada terhadap Angin dan Hujan
Angin adalah pencuri panas yang ulung. Segera cari tempat berlindung jika angin kencang datang. Begitu juga dengan hujan; jangan remehkan gerimis yang terus-menerus. Jas hujan atau poncho yang memadai wajib ada di tas.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Korban?

Jika Anda atau rekan menunjukkan gejala hipotermia, ambil tindakan segera. Ingat, jangan pernah memijat atau menggosok anggota tubuh korban! Ini justru bisa mendorong darah dingin kembali ke jantung.

Pertama, cari tempat perlindungan dari angin dan hujan. Kemudian, ganti semua pakaian basah korban dengan pakaian kering. Selimuti korban dengan sleeping bag atau lapisan isolasi, dan berikan panas dari tubuh orang lain (skin-to-skin contact) di area dada dan punggung. Jika korban sadar, berikan minuman hangat dan manis secara perlahan. Selanjutnya, evakuasi dengan hati-hati ke tempat yang lebih aman. Perlakukan korban dengan sangat lembut, karena jantung pada kondisi hipotermia sangat rentan.

Keselamatan Adalah Pilihan

Hipotermia di gunung bukanlah tanda kelemahan, melainkan risiko alam yang nyata. Namun, dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa mengubah ketakutan menjadi kewaspadaan. Persiapan matang, kemampuan membaca tubuh sendiri, dan sikap rendah hati untuk berhenti atau berbalik arah saat kondisi tidak memungkinkan, adalah penanda pendaki yang cerdas. Ingatlah, gunung bisa kita taklukkan lagi lain waktu, tapi nyawa hanya satu. Bekali diri dengan ilmu, lalu nikmati setiap langkah pendakian dengan rasa aman dan percaya diri.