
Bagi para pecinta alam, mendaki gunung menjadi aktivitas yang menawarkan kepuasan tersendiri. Udara sejuk, pemandangan memukau, serta rasa bangga saat tiba di puncak membuat banyak orang rela menempuh jalur terjal berjam-jam. Namun, di balik keindahan tersebut, ada ancaman yang kerap mengintai para pendaki, yaitu penyakit ketinggian atau yang dalam istilah medis dikenal dengan Altitude Sickness.
Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya dua pendaki perempuan senior di Puncak Jaya, Papua, akibat kondisi ini . Kejadian ini menjadi pengingat bahwa mendaki gunung bukan sekadar soal kekuatan fisik, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana tubuh bereaksi terhadap lingkungan ekstrem. Mari kita pahami lebih dalam tentang penyakit ketinggian agar perjalanan Anda tetap aman dan menyenangkan.
Apa Itu Penyakit Ketinggian dan Penyebabnya?

Penyakit ketinggian terjadi ketika tubuh kesulitan beradaptasi dengan penurunan tekanan udara dan kadar oksigen di dataran tinggi. Semakin tinggi suatu tempat, tekanan atmosfer semakin menurun, sehingga udara menjadi lebih tipis dan kandungan oksigen berkurang drastis.
Kondisi ini biasanya mulai dirasakan saat seseorang berada di ketinggian 2.400 hingga 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) . Sekitar 25 persen pendaki mengalami gejala saat mencapai 2.500 mdpl, dan angkanya meningkat hingga 40-50 persen pada ketinggian 3.000 mdpl .
Faktor utama pemicunya adalah pendakian yang terlalu cepat tanpa memberi waktu tubuh untuk menyesuaikan diri . Beberapa faktor risiko lainnya meliputi:
- Pernah memiliki riwayat penyakit ketinggian sebelumnya
- Tinggal di daerah dataran rendah atau permukaan laut
- Melakukan aktivitas fisik berlebihan di awal pendakian
- Tidur pada ketinggian yang terlalu tinggi di malam pertama
Jenis dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Penyakit ketinggian terbagi dalam tiga tingkatan dengan gejala yang berbeda. Memahami perbedaannya bisa menyelamatkan nyawa Anda atau teman pendaki.
1. Acute Mountain Sickness (AMS): Tingkat Ringan

AMS merupakan bentuk paling umum dari penyakit ketinggian. Gejalanya mirip dengan mabuk alkohol atau flu, sehingga sering disepelekan . Biasanya muncul dalam waktu 6-10 jam setelah pendakian dan berlangsung 24-48 jam .
Gejala AMS meliputi:
- Sakit kepala berdenyut yang memburuk saat beraktivitas
- Mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan
- Pusing atau kepala terasa melayang
- Kelelahan berlebihan meski tidak banyak bergerak
- Sulit tidur atau sering terbangun di malam hari
2. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE): Cairan di Paru-paru

HAPE merupakan kondisi serius akibat penumpukan cairan di paru-paru dan menjadi penyebab sebagian besar kematian terkait penyakit ketinggian . Kondisi ini bisa muncul 24-96 jam setelah pendakian cepat, bahkan pada orang tanpa gejala AMS sebelumnya.
Tanda-tanda HAPE yang harus diwaspadai:
- Sesak napas bahkan saat beristirahat
- Batuk kering yang terus-menerus
- Bunyi gemeretak saat bernapas
- Bibir dan kuku tampak kebiruan (sianosis)
- Batuk berdahak merah muda atau berdarah
3. High Altitude Cerebral Edema (HACE): Pembengkakan Otak

HACE adalah bentuk paling parah dan mengancam nyawa. Kondisi ini terjadi ketika cairan menumpuk di dalam otak, menyebabkan pembengkakan . Gejalanya bisa berkembang cepat dari ringan menjadi kritis dalam hitungan jam.
Gejala HACE meliputi:
- Sakit kepala hebat yang tidak mereda
- Kebingungan dan disorientasi
- Gangguan koordinasi jalan (ataksia) atau berjalan sempoyongan seperti mabuk
- Penurunan kesadaran hingga koma
Langkah Pencegahan Sebelum dan Saat Mendaki

Kabar baiknya, penyakit ketinggian bisa dicegah dengan persiapan matang. Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan para ahli:
– Lakukan Pendakian Bertahap
Kunci utama pencegahan adalah memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi atau yang disebut aklimatisasi . Tubuh perlu waktu 1-3 hari untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ketinggian . Hindari tidur di ketinggian lebih dari 2.800 mdpl pada malam pertama jika Anda tinggal di dataran rendah . Naiklah perlahan, dan jika memungkinkan, habiskan beberapa hari di ketinggian menengah sebelum melanjutkan ke puncak.

– Jaga Kondisi Fisik dan Hidrasi
Kebugaran fisik memang tidak melindungi seseorang secara langsung dari penyakit ketinggian, tetapi tubuh yang prima lebih mampu menghadapi stres lingkungan . Pastikan Anda minum air yang cukup (2-3 liter per hari) untuk menghindari dehidrasi yang bisa memperburuk gejala . Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan kalori untuk menjaga energi selama pendakian .
– Hindari Zat yang Mengganggu Adaptasi
Alkohol dan obat tidur dapat menekan sistem pernapasan dan memperburuk efek kekurangan oksigen . Hindari konsumsi alkohol setidaknya 48 jam sebelum pendakian dan selama di gunung. Rokok juga sebaiknya dihindari karena mengganggu kemampuan paru-paru menyerap oksigen .
Pertolongan Pertama Saat Gejala Muncul

Jika Anda atau rekan pendaki mulai merasakan gejala penyakit ketinggian, langkah cepat dan tepat sangat menentukan keselamatan.
– Hentikan Pendakian dan Istirahat
Begitu gejala muncul, jangan lanjutkan pendakian ke ketinggian yang lebih tinggi. Berhentilah dan biarkan tubuh beristirahat. Dalam banyak kasus, gejala AMS ringan akan membaik dalam 24-48 jam seiring tubuh beradaptasi . Pantau kondisi selama 24 jam, dan jika gejala tidak membaik atau justru memburuk, segera ambil tindakan.
– Turun ke Ketinggian Lebih Rendah
Turun adalah pengobatan paling efektif untuk semua bentuk penyakit ketinggian . Jika gejala memburuk, segera turun minimal 500-800 meter ke ketinggian yang lebih rendah . Kebanyakan pendaki merasakan perbaikan signifikan setelah turun. Jangan pernah meninggalkan penderita HAPE atau HACE sendirian, karena kondisi mereka bisa memburuk dengan cepat.
– Bantuan Medis dan Obat-obatan
Jika tersedia, berikan oksigen tambahan 1-2 liter per menit untuk membantu meredakan gejala . Obat-obatan seperti paracetamol atau ibuprofen bisa membantu mengurangi sakit kepala . Untuk kasus yang lebih serius, acetazolamide dapat membantu mempercepat aklimatisasi, sementara dexamethasone digunakan untuk mengurangi pembengkakan otak . Namun, penggunaan obat-obatan ini sebaiknya atas petunjuk tenaga medis.

Penyakit ketinggian bukan hal yang bisa dianggap remeh. Dengan persiapan yang tepat, pemahaman akan gejala, serta tindakan cepat saat muncul tanda bahaya, Anda bisa menikmati keindahan puncak gunung tanpa mengorbankan keselamatan. Ingatlah bahwa gunung akan selalu ada di sana, tetapi kesehatan dan nyawa tidak bisa diulang. Selalu utamakan keselamatan dan jangan ragu untuk memutar balik jika kondisi tidak memungkinkan.
