kompor portable gunung

Camping di gunung selalu punya tantangan tersendiri: dingin malam, angin kencang, dan kebutuhan memasak yang praktis. Di sinilah kompor portable gunung jadi penyelamat. Alat kecil ini ringan dibawa, mudah dinyalakan, dan bisa masak apa saja dari mie instan sampai nasi liwet di ketinggian 3.000 mdpl. Di tahun 2026, kompor portable semakin populer di kalangan pendaki Indonesia bukan cuma karena harganya terjangkau, tapi juga karena teknologi yang makin aman dan efisien.

Banyak pendaki pemula yang awalnya mengandalkan kayu bakar atau kompor besar, akhirnya beralih ke kompor portable setelah merasakan betapa ribetnya nyalakan api di musim hujan atau di lokasi tanpa kayu kering. Artikel ini akan membahas jenis kompor portable gunung yang paling cocok, kelebihan dan kekurangannya, serta tips memilih supaya kamu nggak salah beli.

Jenis Kompor Portable Gunung yang Paling Banyak Dipakai

Pendaki Indonesia punya preferensi berbeda tergantung medan dan durasi pendakian.

1. Kompor Gas Canister (Butane/Propane)

Ini tipe paling laris di gunung-gunung Jawa seperti Semeru, Rinjani, atau Merbabu. Bentuknya kecil seperti kaleng sarden, pakai tabung gas camping (biasanya 220–450 gram). Nyalanya cepat, api stabil, dan bobot total (plus tabung) hanya sekitar 300–600 gram. Cocok untuk pendakian 1–3 hari.

Kelebihan: ringan, mudah dibawa, panasnya kuat. Kekurangan: tabung gas habis cepat kalau masak banyak, dan kadang sulit cari stok di pos pendakian. Brand favorit: Campingaz, EIGER, Naturehike, atau Kampa.

2. Kompor Multifuel (Bensin/Minyak Tanah)

Kalau kamu suka pendakian panjang atau ke gunung terpencil seperti di Papua atau Sumatera, kompor multifuel jadi pilihan terbaik. Bisa pakai bensin, minyak tanah, atau avtur bahan bakar yang mudah ditemukan di desa terakhir. Contoh populer: MSR WhisperLite, Optimus Nova, atau Primus Omnifuel.

Kelebihan: fleksibel bahan bakar, tahan lama, api kuat meski angin kencang. Kekurangan: lebih berat (800 gram–1,5 kg), perlu priming (pompa), dan bau bensin agak menyengat.

3. Kompor Alkohol (Spirit Burner)

Tipe ini ringan banget (cuma 100–200 gram) dan murah. Pakai alkohol teknis atau spiritus. Cocok untuk ultralight backpacker atau pendakian solo. Contoh: Trangia atau homemade burner dari kaleng minuman.

Kelebihan: super ringan, hampir nggak berisik, murah. Kekurangan: api kecil, masak lama, dan alkohol susah dibawa naik pesawat.

Tips Memilih Kompor Portable Gunung yang Tepat

Pertama, sesuaikan dengan durasi dan medan pendakian. Pendakian 1–2 hari? Gas canister sudah cukup. Lebih lama atau medan ekstrem? Pilih multifuel. Kedua, perhatikan berat dan ukuran jangan sampai melebihi kapasitas carrier-mu. Ketiga, cek kestabilan dan wind shield api harus tetap kuat meski angin gunung kencang.

Keempat, beli dari toko terpercaya (Eiger Adventure, Rei Outdoor, atau marketplace resmi). Baca review pendaki lain banyak yang kasih testimoni nyata setelah dipakai di gunung. Terakhir, bawa spare part kecil seperti selang gas atau gasket supaya aman kalau ada masalah di tengah pendakian.

Kompor Portable Gunung Bikin Pendakian Lebih Mudah

Kompor portable gunung sudah jadi bagian tak terpisahkan dari gear pendaki Indonesia. Ringan, praktis, dan bisa masak di mana saja dari pos 1 sampai puncak. Pilih yang sesuai kebutuhanmu, rawat dengan baik, dan pendakian akan terasa jauh lebih nyaman.

Sudah pakai kompor portable gunung tipe apa? Gas canister, multifuel, atau alkohol burner? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar yuk! Share juga merek favorit atau tips supaya kompor awet bisa jadi referensi buat pendaki lain yang lagi cari gear baru. Selamat mendaki, tetap aman dan jaga alam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP